Pertolongan Pertama Atasi Keracunan Makanan Basi

Keracunan makanan merupakan kondisi medis yang cukup umum, terutama di negara dengan iklim tropis seperti Indonesia, di mana makanan mudah basi jika tidak disimpan dengan benar. Makanan basi mengandung bakteri patogen seperti Salmonella, Escherichia coli, Listeria monocytogenes, dan Clostridium perfringens, yang dapat berkembang biak cepat saat makanan tidak disimpan pada suhu yang sesuai. Mengonsumsi makanan tersebut dapat menyebabkan gejala akut berupa mual, muntah, diare, sakit perut, demam, hingga dehidrasi parah. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat saat mengalami atau menemukan kasus keracunan makanan basi.

1. Kenali Gejala Keracunan Makanan Basi

Gejala keracunan makanan bisa muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari setelah konsumsi makanan terkontaminasi. Gejala yang umum antara lain:

  • Mual dan muntah berulang
  • Diare cair, kadang disertai darah atau lendir
  • Kram perut atau nyeri epigastrium
  • Demam ringan
  • Sakit kepala atau lemas
    Jika gejala muncul tak lama setelah makan, besar kemungkinan disebabkan oleh toksin bakteri seperti Staphylococcus aureus atau Bacillus cereus, yang memang cepat menunjukkan gejala (1–6 jam).

Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), lebih dari 250 jenis makanan dapat menyebabkan foodborne illness, dan sebagian besar berasal dari makanan yang disimpan atau dimasak secara tidak higienis.
(CDC, 2023. Foodborne Germs and Illnesses)

2. Pertolongan Pertama yang Harus Dilakukan di Rumah

Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala keracunan setelah makan makanan yang basi, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:

a. Hentikan Konsumsi Makanan

Segera hentikan konsumsi makanan yang dicurigai menjadi penyebab. Jangan mencoba memanaskan ulang atau “menetralisir” makanan basi karena sebagian besar toksin bakteri tahan panas.

b. Cegah Dehidrasi

Kehilangan cairan akibat muntah dan diare bisa sangat berbahaya, terutama pada anak-anak dan lansia. Beri oralit (larutan rehidrasi oral), air kelapa, atau air putih dengan sedikit garam dan gula untuk mengganti elektrolit yang hilang. Minum sedikit-sedikit tapi sering lebih efektif daripada sekaligus banyak.

📌 Penelitian menunjukkan bahwa rehidrasi oral dapat mengurangi risiko komplikasi serius seperti hipovolemia dan syok akibat keracunan makanan.

c. Hindari Obat Diare Langsung

Jangan langsung memberikan obat antidiare seperti loperamide tanpa konsultasi dokter, terutama jika terdapat darah di tinja atau demam. Obat tersebut bisa menahan racun di dalam usus lebih lama, memperburuk kondisi.

📌 Dalam jurnal “The New England Journal of Medicine” (DuPont HL, 2014), disebutkan bahwa penggunaan loperamide tidak dianjurkan dalam kasus infeksi bakteri invasif karena dapat memperpanjang masa sakit.

d. Kompres Hangat dan Istirahat

Kompres hangat di perut dapat membantu mengurangi kram. Beristirahat total juga penting agar tubuh dapat melawan infeksi.

e. Pantau Tanda Bahaya

Segera cari bantuan medis jika muncul tanda-tanda bahaya seperti:

  • Muntah terus-menerus >8 kali dalam sehar
  • Tidak bisa minum atau makan sama sekali
  • Diare lebih dari 3 hari
  • Demam tinggi >39°C
  • Kesadaran menurun atau tubuh sangat lemas

3. Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati

Setelah kejadian keracunan, penting untuk mengevaluasi penyimpanan dan pengolahan makanan di rumah. Gunakan prinsip 4K dalam keamanan pangan:

  • Kebersihan tangan, alat, dan dapur
  • Kontrol suhu penyimpanan makanan (<4°C untuk dingin dan >60°C untuk panas)
  • Konsumsi tepat waktu
  • Ketahui kadaluarsa makanan, termasuk makanan olahan

📌 FAO dan WHO menyatakan bahwa suhu antara 5°C dan 60°C adalah “zona bahaya” pertumbuhan bakteri, dan penyimpanan makanan dalam rentang ini harus diminimalisir.

Kesimpulan

Keracunan makanan basi dapat terjadi pada siapa saja dan bisa berakibat serius jika tidak ditangani dengan cepat. Pertolongan pertama seperti menghentikan konsumsi makanan, melakukan rehidrasi, dan mengenali tanda bahaya adalah langkah awal yang vital. Dengan edukasi yang tepat dan kesadaran menjaga keamanan makanan, kasus keracunan dapat dicegah dan ditangani dengan lebih efektif. Jika ragu, jangan tunda mencari pertolongan medis untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Referensi:

  1. CDC. (2023). Foodborne Germs and Illnesses. https://www.cdc.gov/foodsafety/foodborne-germs.html
  2. DuPont H. L. (2014). Acute infectious diarrhea in immunocompetent adults. The New England journal of medicine, 370(16), 1532–1540. https://doi.org/10.1056/NEJMra1301069
  3. WHO. (2019). Guidelines on the management of dehydration in diarrheal diseases.
  4. FAO/WHO. (2022). Food Safety: Basic Texts. ISBN 978-92-5-136263-5
  5. sumber gambar: https://images.app.goo.gl/MM3Ao4fNpPpmuw8MA