Ketahuilah Dampak Negatif Media Sosial Bagi Kesehatan Mental

Media sosial saat ini sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari—digunakan untuk berkomunikasi, hiburan, bahkan memperluas relasi. Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahwa pola penggunaan yang problematis, bukan durasi penggunaan, menjadi faktor utama yang mengancam kesehatan mental remaja dan dewasa muda. Sebuah meta‑analisis oleh Andreassen dan kolega (2022) melibatkan 9.269 partisipan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara problematis berkorelasi moderat dengan depresi (r=0,273), kecemasan (r=0,348), dan stres (r=0,313)

Sementara itu, gangguan tidur terbukti menjadi jembatan kritis antara media sosial dan kondisi mental negatif. Ulasan sistematis dan meta‑analisis terhadap lebih dari 1 juta responden muda menunjukkan bahwa penggunaan problematis berhubungan dengan gangguan tidur yang, pada gilirannya, memperburuk depresi dan kecemasan . Mekanisme ini diperkuat oleh penelitian di Journal of Affective Disorders yang juga menekankan peran tidur sebagai mediator utama .

Lebih jauh lagi, sebuah studi longitudinal besar yang diterbitkan di The Guardian, berdasarkan data JAMA, melacak lebih dari 4.300 remaja usia 9–10 tahun selama empat tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa pola penggunaan gawai dan media sosial yang kompulsif (addictive use) meningkatkan risiko pikiran maupun upaya bunuh diri hingga 2–3 kali lipat. Menariknya, total durasi penggunaan tidak berpengaruh signifikan—yang penting adalah sejauh apa perilaku tersebut mengganggu fungsi sehari-hari

Selain itu, efek media sosial terhadap citra tubuh dan gangguan makan makin mengkhawatirkan. Algoritma platform sering kali memperbanyak konten diet ekstrem atau tubuh ideal, seperti yang ditonjolkan dalam kasus hukum terhadap TikTok dan Instagram di AS, di mana individu mengklaim algoritma memperburuk kondisi seperti anoreksia .

Cyberbullying juga menjadi ancaman besar. Meta‑analisis dari JAMA Pediatrics menunjukkan bahwa korban perundungan daring memiliki odds ~3 kali lebih tinggi mengalami ide bunuh diri dibanding yang tidak mengalami

Paparan konten kekerasan dalam jangka lama juga bisa memicu trauma tanpa pengalaman langsung (vicarious trauma).

Apabila diperluas, meta‑analisis terbaru saat ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah juga berhubungan dengan kesejahteraan mental yang rendah: menurunnya kepuasan hidup, harga diri, dan peningkatan kesepian serta tekanan emosional

Dalam menghadapi fenomena tersebut, intervensi berbasis terapi psikologis terbukti lebih efektif dibanding sekadar membatasi penggunaan. Ulasan di Journal of Medical Internet Research tahun 2023 menemukan bahwa intervensi terapi—seperti CBT, mindfulness, atau konseling—memberikan perbaikan lebih baik pada depresi, kecemasan, stres, dan kesepian, ketimbang intervensi waktu penggunaan saja .

Kesimpulannya, dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental terlihat jelas jika penggunaan yang kompulsif dan maladaptif tidak dikendalikan. Risiko yang muncul meliputi depresi, kecemasan, gangguan tidur, pikiran bunuh diri, dan gangguan citra tubuh. Fokus pada pola penggunaan—bukan durasi semata—serta intervensi psikologis profesional adalah langkah efektif untuk menjaga kesehatan mental di era digital ini.

Referensi:

Shannon H, Bush K, Villeneuve P, Hellemans K, Guimond S. Problematic Social Media Use in Adolescents and Young Adults: Systematic Review and Meta-analysis. JMIR Ment Health 2022;9(4):e33450. DOI: 10.2196/33450

Ahmed, O., Walsh, E. I., Dawel, A., Alateeq, K., Espinoza Oyarce, D. A., & Cherbuin, N. (2024). Social media use, mental health and sleep: A systematic review with meta-analyses. Journal of affective disorders, 367, 701–712. https://doi.org/10.1016/j.jad.2024.08.193