Demam adalah suatu gejala umum yang menandakan bahwa tubuh sedang melawan infeksi. Ketika suhu tubuh meningkat hingga ≥38°C, tubuh sebenarnya sedang mengaktifkan mekanisme imun untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen. Dalam menghadapi demam, banyak orang tua dan perawat melakukan intervensi non-farmakologis seperti memberikan kompres—baik kompres hangat maupun kompres dingin—untuk menurunkan suhu tubuh. Namun, efektivitas masing-masing jenis kompres sering kali menjadi perdebatan. Mana yang lebih efektif dan aman digunakan, kompres hangat atau kompres dingin?
Secara fisiologis, saat demam, tubuh mengubah set-point suhu di hipotalamus ke tingkat yang lebih tinggi. Akibatnya, tubuh berusaha mencapai suhu baru ini dengan menggigil dan vasokonstriksi untuk mempertahankan panas. Bila kompres dingin diberikan saat set-point tubuh masih tinggi, tubuh bisa merespons dengan meningkatkan usaha mempertahankan panas, seperti menggigil, yang justru membuat demam semakin parah atau membuat pasien merasa lebih tidak nyaman. Sebaliknya, kompres hangat (atau biasa disebut tepid sponging) bekerja dengan cara menstimulasi vasodilatasi di pembuluh darah permukaan kulit, sehingga panas tubuh dapat lebih mudah keluar dan memberikan rasa nyaman tanpa memicu respons mempertahankan panas.
Sebuah penelitian oleh Souza et al. (2022) dalam jurnal Revista Brasileira de Enfermagem meneliti efektivitas kompres hangat pada anak dengan demam dan menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara anak yang diberi kompres hangat dan yang hanya menerima antipiretik. Bahkan, suhu tubuh anak yang mendapatkan kompres hangat cenderung lebih tinggi setelah 60 menit dibanding kelompok kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan kompres hangat tidak secara langsung mempercepat penurunan suhu tubuh, tetapi mungkin memberikan efek psikologis berupa rasa nyaman. Di sisi lain, penelitian oleh Salgado et al. (2016) yang membandingkan metode pendinginan seperti ice-pack (kompres dingin) pada pasien ICU menunjukkan bahwa kompres dingin memang menurunkan suhu lebih cepat (~45 menit), namun efeknya bersifat sementara dan dapat menimbulkan efek samping seperti vasokonstriksi ekstrem dan menggigil yang menyebabkan peningkatan metabolisme dan ketidaknyamanan.
Lebih lanjut, ulasan sistematis oleh Purssell (2000) dalam Journal of Advanced Nursing menyebutkan bahwa penggunaan metode fisik untuk menurunkan demam, seperti sponge bath dan kompres dingin, tidak menunjukkan manfaat klinis yang konsisten dan cenderung meningkatkan stres metabolik, khususnya pada anak-anak. Oleh karena itu, beberapa panduan klinis terbaru, termasuk dari World Health Organization (WHO), tidak merekomendasikan penggunaan kompres—baik hangat maupun dingin—sebagai terapi utama untuk menurunkan demam, melainkan menyarankan fokus pada pemberian antipiretik, hidrasi, ventilasi lingkungan yang baik, dan pemantauan ketat terhadap gejala penyerta.
Meskipun begitu, dalam praktik klinis, penggunaan kompres masih banyak dilakukan karena dianggap sebagai terapi suportif yang sederhana dan murah. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami indikasi dan batasan dari penggunaan kompres. Kompres hangat dapat digunakan untuk membantu kenyamanan pasien dan membantu sedikit penurunan suhu melalui pelepasan panas dari kulit, namun tidak untuk menggantikan obat antipiretik. Kompres dingin hanya disarankan bila suhu tubuh sangat tinggi (>39°C) dan pasien tidak menggigil, serta harus digunakan dalam durasi pendek dan dengan pemantauan ketat. Tidak dianjurkan untuk menempelkan es langsung ke kulit atau melakukan kompres pada bayi tanpa pengawasan medis.
Dengan demikian, berdasarkan bukti-bukti ilmiah terkini, kompres—baik hangat maupun dingin—tidak seefektif antipiretik dalam menurunkan suhu tubuh dan tidak boleh dijadikan sebagai penanganan utama demam. Namun, jika tetap ingin digunakan, kompres hangat lebih disarankan dibanding kompres dingin karena lebih nyaman dan minim risiko, walau manfaatnya secara klinis tidak signifikan. Edukasi kepada masyarakat tentang peran utama antipiretik dan pentingnya hidrasi serta istirahat dalam mengatasi demam harus lebih digalakkan agar penanganan demam tidak hanya berdasarkan tradisi, tetapi juga berdasarkan bukti medis yang valid.
Referensi:
Jesus, A. P. S. D., Okuno, M. F. P., Campanharo, C. R. V., Lopes, M. C. B. T., & Batista, R. E. A. (2021). Manchester Triage System: assessment in an emergency hospital service. Revista Brasileira de Enfermagem, 74, e20201361.
Salgado, P. O., Silva, L. C., Silva, P. M., & Chianca, T. C. (2016). Physical methods for the treatment of fever in critically ill patients: a randomized controlled trial. Revista da Escola de Enfermagem da U S P, 50(5), 823–830. https://doi.org/10.1590/S0080-623420160000600016
sumber gambar: https://images.app.goo.gl/6rxPQPck1HH2PURv7